Minggu, 14 Maret 2010

Lima Pendekar Penerjemah Cerita Silat


Inilah lima pendekar penerjemah cerita silat di tanah air. Dari generasi pertama yang mulai menerjemahkan pada 1920- an hingga yang tetap bertahan hingga kini. Tiga dari mereka sudah tiada, dua lainnya tak lagi muda.

Kwo Lay Yen Generasi Pertama Penerjemah Kwo Lay Yen atau Tan Tek Ho lebih dikenal memiliki beberapa nama samaran: Kwo Lay Yen (Si Mahir), Bong Kok No (Budak Tanpa Negara) dan Hoh Hoh Sianseng (Tuan Harmoni).

Ia lahir di Bandung pada 1894. Tek Ho menempuh pendidikan dasar di Bandung dan Batavia, kemudian melanjutkan ke Nanking (Nanjing). Kembali ke Indonesia ia menjadi wartawan Sin Po. Pada 1920-an menjadi Redaksi Kepala (Hoofd-redacteur) untuk Sin Po Oost-Java Editie.

Sesudah Oost-Java Editie ditutup, ia kembali ke Bandung dan sepenuhnya menjadi penerjemah cerita silat. Karya terjemahannya yang membuat dia terkenal adalah Riwajat Djago Silat karya Siang Khay Yan (Xiang Kairan) dan Tai Beng Kie Hiap karya Sie Leng Hong (Xi Lingfeng).

Ia mengepalai berkala Goedang Tjerita (Bandung, 1929) yang kemudian diambil alih sepenuhnya dan diganti namanya menjadi Tjerita Silat pada 1932. Ketika Jepang masuk, ia ditahan di Sukamiskin, kemudian di Cimahi dan baru bebas ketika Jepang jatuh.

Salah satu terjemahan Kwo Lay Yen terbaik adalah Tjoe Bo Kim So karya The Tjeng In (Zheng Zhengyin) yang dimuat di Goedang Tjerita sejak 1948. Ia meninggal di Bandung pada 1949.

Ia menguasai aktif bahasabahasa Belanda, Cina, Inggris dan Melayu. Karena pengalamannya sebagai wartawan, maka hasil terjemahannya mengalir dengan lancar dan lebih ketat mengikuti kaidah Bahasa Indonesia daripada Melayu (Rendah).

Hanya saja penguasaannya atas dialek Hokkian sangat kurang. Ini tampak dari nama samaran yang digunakannya lebih banyak menggunakan ejaan nasional daripada Hokkian.

Selama hidupnya ia telah menerjemahkan lebih dari 50 judul cerita silat dan selusin novel Eropa. Oey Kim Tiang Menerjemahkan ke Melayu Betawi Oey Kim Tiang atau lebih dikenal dengan OKT adalah penerjemah cerita silat terbesar.

Ia telah mengerjakan lebih dari 100 judul cerita silat dan cerita klasik Cina selama 1923-1990. Ia lahir di Tangerang pada Februari 1903 dan meninggal pada 1995. Orangtuanya mandor kebun kelapa yang selalu berpindah-pindah tempat.

Ia dititipkan di keluarga ibunya dan mendapatkan pendidikan dasarnya di Tangerang. Di sana ia bersahabat dengan salah satu pengajarnya, Ong Kim Tiat. Kim Tiat pula yang membawanya ke Batavia untuk bekerja di bidang jurnalistik.

Setelah beberapa bulan bekerja di koran Perniagaan, ia kemudian pindah ke koran Keng Po yang baru saja berdiri pada Juli 1923. Di koran ini, OKT melanjutkan penerjemahan cerita sejarah klasik. Sejak itu ia menjadi penerjemah penuh seumur hidupnya.

Ketika cerita silat mengalami ledakan di akhir 1920-an, nama OKT semakin berkibar. Ia menangani cerita silat bersambung di setidaknya tiga harian. Ia sangat setia pada Keng Po yang membesarkannya dan bertahan di sana sampai koran itu mati pada 1958.

Walaupun tak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, tapi OKT justru menguasai bahasa Melaju Betawi. Penguasaan ini pernah dipuji oleh para sastrawan, seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan Ajip Rosidi. Kehatihatian membuat ia sangat setia menerjemahkan cerita silat.

Bersama saudaranya, Oey An Siok, dengan nama Boe Beng Tjoe, ia meninggalkan monumen Trilogi Rajawali Kim Yong (Jin Yong) jang telah menguasai emosi jutaan orang pembaca di seluruh dunia. Gan Kok Liang Lincah dan Enak Dibaca Gan Kok Liang atau lebih dikenal dengan nama Gan KL mengikuti ayahnya datang ke pulau Jawa pada 1928 ketika berumur 10 tahun.

Jadi ia benar- benar menguasai dialek Hokkian vernacular, seperti tercermin dalam karya-karyanya. Ia tinggal di Purworejo dan menghabiskan masa remajanya di sana. Pada 1948, agresi militer Belanda telah membumi hanguskan tempat tinggalnya. Keluarga Gan KL pun pindah ke Semarang.

Di Semarang ia mencoba berbagai macam pekerjaan. Ia mendapat kedudukan baik di satu perusahaan milik orang Belanda. Hanya saja ketika terjadi nasionalisasi, ia harus mencari pegangan lain. Pekerjaan penerjemahan menjadi sandaran barunya. Terjemahannya yang lincah dan enak dibaca diterima di harian Sin Po yang sedang mencari pengisi cerita silat bersambung baru.

Ia juga mengisi untuk koran Pantjawarna. Di sinilah ia terpengaruh oleh Nio Joe Lan yang menyarankan penulisan nama-nama Cina dalam ejaan modern Bahasa Indonesia. Ini berbeda dengan kubu Keng Po yang mempertahankan penulisan berdasarkan standar van ophuijsen.

Karya penerjemah yang meninggal pada 2003 itu mencapai lebih dari 50 judul dan hampir semua ceritanya panjang. Karyanya yang akan dikenang terus antara lain adalah Tiga Dara Pendekar (Jianghu Sannuxia) karya Liang Yushen, Rahasia Putri Harum (Suqian wenshou lu) dan Hina Kelana (Xiao’ao Jianghu) karya Jin Yong, dan Pendekar Binal (Juedai shuangjiao) (1980) karya Gu Long.

Gan Kok Hwie Santai dan Berapi-api Berbeda dengan kakaknya, Gan Kok Hwie atau Gan KH lebih terlihat sebagai pribadi yang santai dan penuh canda. Memulai karier sebagai penerjemah karena menuruti jejak Gan KL, sang kakak, ia telah menerjemahkan tidak kurang dari 30 judul cerita silat sampai saat ini.

Gan KH saat ini tinggal di Semarang dan sehari harinya sangat aktif dalam kegiatan kelenteng di Tay Kak Sie Semarang. Ia masih sangat berapiapi ketika berbicara tentang zaman kejayaan cerita silat dulu. Ia masih mengingat satu per satu karya yang pernah diterjemahkannya. Para penggemar cersil akan selalu mengenang Gan KH sebagai salah satu penerjemah terbaik cerita-cerita karya Khu Lung atau Gu Long.

Di antaranya adalah serial Pendekar Harum dan saga Salju Merah. Pada 2005 ini Gan KH kembali menerjemahkan dan buku yang paling akhir terbit adalah masih dari salah satu karya Khu Lung yang diberi judul Pukulan si Kuda Binal. Gan KH berjanji akan terus menerjemahkan demi untuk mempopulerkan kembali cerita silat seperti di zaman jayanya dulu.

Tjan Ing Djoe Spesial Karya Khu Lung Tjan Ing Djoe atau lebih dikenal dengan Tjan ID adalah OKT. Dari jumlah buku yang pernah disadur atau diterjemahkan dari bahasa aslinya, Tjan ID menerjemahkan tidak kurang dari 93 judul yang setara dengan hampir 2.188 jilid cerita silat. Lahir pada 1949, Tjan mulai menerjemahkan cerita silat di usia 19 saat kuliah di Universitas Diponegoro Semarang.

Pada awal karier penulisannya Tjan banyak dibantu oleh OKT yang juga mengajarinya teknik menerjemahkan dari bahasa Cina. Tjan ID juga seorang yang unik. Tak seperti para penerjemah lainnya, walau produktif, Tjan tidak pernah memakai kertas karbon ketika mengetik untuk naskah terjemahannya. Akibatnya ketika gelora penerjemahan cerita silat kembali muncul, Tjan ID harus kehilangan sebagian besar naskah karyanya yang hilang atau habis dimakan rayap.

Sekitar 20 karya Khu Lung telah diterjemahkannya sekaligus membawanya sebagai penerjemah spesialis karya Khu Lung. Ia terkenal sebagai penerjemah yang sangat setia pada naskah aslinya. Golok Kemala Hijau pada 1974 diakui sebagai karya terjemahannya yang pertama. Karya terjemahan cerita silat terakhirnya baru saja diluncurkan Oktober ini atas kerja sama dengan Masyarakat Tjersil, berjudul Bunga Pedang, Embun Hujan, Kanglam, masih terjemahan dari karya Khu Lung.

Saat ini Tjan ID tinggal di Semarang. Sembari menerjemahkan, ia sibuk beternak ayam.

HIANG PHEK TAUWTOO |RIEZ SIAUW BIN YOE HOEN DOKUMEN PRIBADI

Dari : ruangbaca.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar