Kamis, 12 Mei 2011

Liang San Tjit Hiap




Liang San Tjit Hiap atawa Pembakaran "Gereja Noraka Prempoean" In Thian Sie.
Jumlah buku : 2
Ditoetoerkan oleh : Huang
Penerbit : Sunrise Batavia
Harga Rp 70.000,- dua buku.

Pertempoeran dahsjat Silat contra Silat, Sinar lawan Sinar, dalem membasmi dan boemi angoesken klenteng tjaboel In Thian Sie.
Pendahoeloean.
Tjerita Liang San Tjit Hiap sabenernja ada samboengan dari tjerita Liang Tjie Kiam, atawa Sepasang Soeami Isteri Djago Pedang Wasiat.
TERJUAL?

Minggu, 08 Mei 2011

Cersil Antik Karya S Djatilaksana : Naga siluman Sawer wulung


Buku cerita silat antik ini terbit tahun 60 an, dikarang oleh seorang tionghoa bernama Sie Djak Liong. Nama bekennya adalah SD Liong. Ia seorang penterjemah cerita silat kondang dari Jawa Tengah (Semarang ?), dan paman dari pelukis/komikus dari Solo (Surakarta) yang bernama Yanes. Bukunya menarik karena enak dibaca dan mengasyikkan.
Jumlah buku : 11 (Lengkap dan tamat)
Harga Rp 100.000,- belum ongkir
Kunjungi djadoelantik.blogspot.com untuk detail buku lainnya.
SOLD OUT

Buku Cersil Antik Herman Pratikto Bende Mataram


Bende Mataram adalah buku cerita silat karya Herman Pratikto yang sudah djadoel dan antik. Buku ini terbit sekitar tahun 60 an.
Pengarang buku Bende Mataram ini bernama Herman Pratikto lahir di Blora pada tanggal 18 Agustus 1929. Ia termasuk pendiri harian Minggu padi dan Harian Nasional, dan mengasuh ruang seni dan budaya disana.

Walaupun ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta, akan tetapi Herman lebih banyak berkarya dibidang tulis menulis, mendalang wayang kulit, mencipta lagu jawa, melukis, dan siaran radio untuk acara seni dan budaya.

Tidak lengkap, kurang jilid 5,6,7 dan 25 Saya pun belum tahu apakah setelah jilid 26 masih ada lanjutannya ?
Hanya ada jilid : 1,2,3,4 + 8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24, dan 26
Jumlah buku : 22 buku
Kondisi buku : baik dan utuh.
Harga Rp 165.000,- belum ongkir

Kunjungi : djadoelantik.blogspot.com untuk detail lainnya.
SOLD OUT

Senin, 21 Maret 2011

San Hoa Lie Hiap



Judul buku : San Hoa Lie Hiap atau Pendekar Wanita Penyebar Bunga
Penterjemah : Boe Beng Tjoe

Tidak Lengkap, hanya ada jilid 1,2,.... 4,5,6,7,8
Belum tamat, masih bersambung
Harga 7 buku ini Rp 140.000,-
Cerita San Hoa Lie Hiap atau Pendekar Wanita Penjebar Bunga ini adalah sambungan dari : Peng Tjong Hiap Eng
BOOKED

Jumat, 04 Maret 2011

Peng Tjoan Thian Lie

SOLD





Judul buku : Peng Tjoan Thian Lie
Penterjemah : Boe Beng Tjoe
Lengkap dan Tamat
Jumlah buku : 10
Harga semuanya : Rp 200.000,-

Sinopsis

Sungai es di puncak gunung laksana Thianho yang nyungsang,
Dengarlah kepingan es mengalir dengan bersuara perlahan sekali,
Ibarat suara tetabuhan yang dipentil dengan jeriji si gadis jelita,

Si nona tanya pada sang pengembara:
Berapa gunung es lagi yang harus kau daki?
Berapa topan lagi harus kau lewati?
Pengembara!
Sang elang di atas padang rumput pun tak dapat terbang terus-terusan,
Tapi kau jalan, jalan terus, jalan terus,
Sampai tahun apa, bulan apa, barulah kalian mau turun dari kuda?

Nona, terima kasih atas kebaikanmu,
Tapi kami tak dapat menjawab pertanyaanmu,
Apakah kau pernah melihat bunga di padang pasir?
Apakah kau pernah melihat gunung es menjadi lumer?
Kau belum pernah lihat? Belum pernah!
Maka itu, kami pengembara,
Juga tak akan berhenti jalan selama-lamanya.

Itulah suara nyanyian, diseling dengan klenengan kuda, yang pada suatu hari dapat didengar di padang rumput perbatasan Tibet. Nyanyian itu keluar dari mulutnya pengembara yang sedang lewat di padang rumput tersebut. Pegunungan Himalaya yang berentet-rentet, puncak-puncak gunung yang tertutup es dan menjulang tinggi sehingga menembus awan seperti juga sedang mendengari nyanyian itu yang menyedihkan hati.

Dan tanpa diketahui oleh sang penyanyi, satu pemuda bangsa Han turut pasang kupingnya. Air mata berlinang di kedua matanya. Ia menghela napas panjang dan berkata seorang diri: "Aku dan kalian tak ada bedanya. Kalian mengembara ke ujung langit, aku pun tak tahu kapan bisa dapat pulang ke kampung kelahiranku."

Pemuda itu she Tan, bernama Thian Oe, kelahiran Souwtjiu, daerah Kanglam. Ayahnya, Tan Teng Kie, dahulu pegang pangkat di kota raja, tapi lantaran ia berani ajukan pengaduan yang menyerang Ho Kun, satu menteri busuk yang sangat disayang oleh Kaizar Kian Liong, ia dikirim ke Tibet (Seetjong) sebagai Amban 1) (Soanwiesoe) pada sekte Sakya. Sedari waktu itu sampai sekarang, delapan tahun sudah lewat. Waktu datang di Tibet, Thian Oe masih anak-anak berusia sepuluh tahun, sekarang ia sudah jadi pemuda 18 tahun.

Berada jauh di tempat orang, hatinya Thian Oe sangat rindukan kampung halamannya, terutama lantaran ayahnya hampir saban hari ceritakan keindahannya Kanglam yang permai.

Jumlahnya pengembara itu ada belasan orang, antaranya terdapat orang Tibet, Uighur dan dua orang Han. Rupanya mereka bertemu di tengah jalan dan lalu membentuk satu rombongan penjual suara yang berkelana ke sana-sini. Kedua matanya Thian Oe yang mengikuti mereka mendadak terpaku kepada satu gadis dari suku Tsang yang memakai pakaian serba putih. Berjalan di antara kawan-kawannya, gadis itu adalah laksana burung ho di antara kawanan ayam. Lain orang menyanyi, ia sendiri tutup mulut rapat-rapat, sedang kedua matanya yang bersinar terang mengawasi langit dan awan tanpa berkesip. Duduk di atas sela, ia seperti juga tidak dengar suara kawan-kawannya, seperti sedang memikir sesuatu. Kalau bukan biji matanya masih bergerak-gerak, Thian Oe bisa salah mata dan menduga ia sebagai patung di atas kuda.

Selagi mengimplang seperti orang kehilangan semangat, tiba-tiba terdengar suara burung gagak di tengah udara. Thian Oe dongak dan mendadak dengar suara menjepratnya tali gendewa dan sebatang anak panah, yang dilepaskan oleh salah satu orang Han, menyambar ke arah ia. Dari mendesingnya sang anak panah yang menusuk telinga, ia tahu bahwa orang yang melepaskan mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat.

Bidadari Sungai Es
Kisah ini merupakan lanjutan dari “ Peng Pok Han Kong Kiam (Pedang Inti Es)”. Cerita ini sebenarnya merupakan kisah pembuka dari “Perjodohan Busur Kemala” dimana di cerita ini dikisahkan awal munculnya Kim Sie Ie, dan mengapa ia dipanggil sebagai Tok Ciu Hong Kay (Pengemis Kusta Tangan Beracun) . Peng Tjoan thian Lie yang adalah anak dari Koei Hoa Seng dan seorang Putri Kerajaan Nepal yang berdiam di Istana Es yang dikarenakan istananya hancur akhirnya memutuskan untuk berpetualang di rimba Persilatan.

Pertemuannya dengan Tong Keng Thian yg adalah anak dari Tong Siauw Lan CiangBunjin partai Thian San Pay dan Kim Sie Ie membuat terjadinya cinta segitiga yang akhirnya dimenangkan oleh Tong Keng Thian. Para Pengawal Kerajaan (Busu) di Nepal yg selalu memohon Koei Peng Go sang Bidadari dari Sungai Es itu untuk menjadi Raja di Nepal, membuatnya kadang2 harus bentrok.

Beberapa tokoh sakti dari kisah “3 Dara Pendekar” dan “7 Pendekar Pedang dari Thian San” akan muncul. Cerita ini sebaiknya dibaca sebelum kita membaca kisah “Perjodohan Busur Kemala” yang merupakan salah satu karya Liang Ie Shen yg terbaik

SOLD