Tampilkan postingan dengan label Penulis Cerita Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis Cerita Silat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Maret 2010

Boe Beng Tjoe



Oey An Siok adalah kerabat dekat OKT (Oey Kim Tiang), bahkan ia menggunakan salah satu nama samaran OKT, Boe Beng Tjoe dalam karya-karya terjemahannya. Bersama OKT ia menghasilkan Sin Tjioe Eng Hiap (Binasanya Satu Kaisar), dan Sin Tiauw Hiap Lu, sedang terjemahan yang dikerjakannya sendiri adalah San Hoa Lie Hiap, Peng Tjoan Thian Lie (Bidadari dari Sungai Es), Swat San Hoei Ho (Si Rase Terbang dari Pengunungan Salju), dan Ie Thian To Liong (Kisah Membunuh Naga).
Lahir pada tahun 1915 di Tangerang, ia memperoleh pendidikan di THHK dan kemudian Overseas Chinese Institute, keduanya di Jakarta. Ia memulai karirnya di Keng Po dan sewaktu Keng Po ditutup, melanjutkannya di Harian Pos Indonesia dan Mingguan Djaja, sebelum kemudian membantu Rumah Sakit Husada di Jakarta juga. Jabatan terakhirnya di sana adalah Direktur Administrasi.
(dikutip dari cover belakang "Bidadari Sungai Es")

Gan K.L.


Gan Kok Liang yang lebih dikenal dengan sebutan Gan KL adalah salah satu sastrawan, selain Oey Kim Tiang alias OKT, yang memperkenalkan cerita-cerita silat Tiongkok di Indonesia. Telah dibawanya ke bumi Indonesia karya-karya tiga pengarang silat Tiongkok terkenal: Jin Yong, Gu Long, dan Liang Yusheng.

Gan KL merupakan anak pertama dari delapan bersaudara, putra dari Gan Swie Pie dan Phoa Leng Keng. Ia lahir di Xiamen, China, 14 Agustus 1928 silam dan dibawa orangtuanya ke Indonesia pada tahun 1938 saat tentara Jepang menguasi Xiamen. Mereka mendarat di Surabaya dan kemudian menetap di Kutoarjo, Jawa Tengah. Sekitar tahun 1948 Jepang menguasai Kutoarjo dan keluarga Gan KL pun kembali harus mengungsi dan mereka akhirnya menetap di Semarang.

Tahun 1958, Gan KL mengirimkan karya sadurannya yang pertama berjudul Pendekar Padang Rumput (Sai Wai Qi Xia Chuan) buah karya Liang Yusheng, yang berkisah tentang perjuangan suku minoritas di Sin Kiang melawan kaum penjajah, ke harian Sin Po. Kisah sadurannya itu rupanya digemari banyak orang, sehingga Gan KL memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya saat itu sebagai auditor akuntansi PT Oei Tiong Ham Concern untuk bekerja sepenuhnya menulis cerita silat. Tahun 1961 Gan KL mulai menerbitkan karyanya sendiri dan mengedarkannya ke toko-toko buku, selain menerbitkannya di surat kabar.

Gan KL berhenti menerjemahkan cerita silat tahun 1986 seiring dengan menyurutnya minat pembaca cerita silat. Ia beralih profesi terjun ke bidang hukum dan membuka kantor konsultan hukum yang memberi jasa pengurusan naturalisasi warga negara asing menjadi warga negara Indonesia.

Gan KL yang memiliki hobi membaca dan menyanyi ini dikaruniai lima orang anak dari pernikahannya dengan Tan Bie Nio.

Karya penerjemah yang meninggal pada 28 November 2003 itu mencapai lebih dari 50 judul dan hampir semua ceritanya panjang. Karyanya yang akan dikenang terus antara lain adalah Tiga Dara Pendekar (Jianghu Sannuxia) karya Liang Yushen, Rahasia Putri Harum (Suqian Wenshou Lu) dan Hina Kelana (Xiao’ao Jianghu) karya Jin Yong, dan Pendekar Binal (Juedai Shuangjiao) (1980) karya Gu Long.


Daftar Saduran Gan KL:

Pendekar Rajawali Sakti (Sin Tiauw Hiap Lu/The Return Of The Condor Heroes)
Golok Pembunuh Naga (To Liong To/Heavenly Sword And Dragon Sabre)
Pahlawan Padang Rumput (Cauw Guan Eng Hiong)
Thian San Thjit Kiam (Tujuh Pendekar Dari Thian-san)
Tiga Dara Pendekar (Kang Ouw Sam Li Hiap)
Pedang Di Sungai Es (Peng Ho Swi Kiam)
Geger Dunia Persilatan (Hong Lui Cin Kiu Cin)
Pendekar Jembel (Hiat Kut Tan Sin)
Kelana Buana
Durjana Dan Ksatria
Medali Wasiat (Hiap Kek Heng)
Hina Kelana (Siauw Go Kang Ouw)
Pedang Hati Suci (Soh Sim Kiam)
Pendekar Negeri Taylie (Thian Liong Pat Pou/Demi Gods And Semi Devils)
Pendekar Latah
Pendekar Sejati
Rahasia Peti Wasiat
Amanat Marga
Misteri Kapal Layar Pancawarna
Pendekar Baja
Renjana Pendekar
Imbauan Pendekar

Serial Pendekar Binal
1. Pendekar Binal
2. Bakti Pendekar Binal
3. Bahagia Pendekar Binal
Pendekar Harum
4. Mayat Kesurupan Roh
5. Legenda Kelelawar

Pendekar Budiman

Serial Pendekar Empat Alis

1. Pendekar Empat Alis
2. Si Bandit Ahli Bordir
3. Duel Antara Dua Jago Pedang
4. Rumah Judi Pancing Perak
5. Keajaiban Negeri Es
6. Perkampungan Hantu
7. Duel Di Butong
8. Manusia Yang Bisa Menghilang
9. Sang Ratu Tawon
10. Senyuman Dewa Pedang

Manusia Aneh Dari Alas Pegunungan (Hong San Koay Khek)
Si Pedang Kilat
Thian Ge Ciat Kiam
Pedang Darah Dan Bunga Iblis
Golok Yanci Pedang Pelangi
Jago Terpendam Di Tanah Asing
Pendekar Satu Jurus
Pengemis Berbisa
Rahasia 180 Patung Mas
Tiga Mutiara Mestika (Sam Po Tju)
Pahala Dan Murka
Balada Kaum Kelana
Kemelut Di Ujun Ruyung Emas
Pedang Kiri Pedang Kanan
Pendekar Kembar
Hikmah Pedang Hijau
Pendekar Lugu (Si Kangkung)
Tiga Pedang Tujuh Ruyung

Dari : cersilanda.com

Tjan ID dan Thio Tiong Gie, Berpayah-payah Siapkan Pengganti

Foto Tjan ID

Foto Thio Tiong Gie

DIA adalah satu dari empat warga negara Indonesia yang namanya tercatat dalam Ensiklopedi Chinese Overseas bidang Kesenian dan Kebudayaan terbitan Pemerintah China. Sebagai penyadur cerita silat Tiongkok, dia disebut-sebut sebagai yang terbesar setelah mendiang Oey Kim Tiang (OKT). Kini, lelaki kelahiran Semarang, 2 Juli 1949 itu menjadi satu-satunya penyadur generasi lama yang tersisa. Dialah Tjan Ing Djioe, yang lebih dikenal pembaca dengan nama pena Tjan ID.

Tjan, sapaan Tjan Ing Djioe, penyadur yang sangat produktif. Karyanya lebih dari 100 judul, dengan jumlah jilid mencapai ribuan. Buku-buku yang ia terjemahkan karya penulis populer dari Negeri Tirai Bambu. Namun Tjan paling banyak menyadur tulisan Khu Lung (Gu Lung).

Kini, di usianya yang merambat senja, Tjan masih terus berkarya mengalihbahasakan teks-teks cerita berbahasa China ke dalam Bahasa Indonesia. Saban hari dia bisa menghabiskan 12 jam waktunya di ruang kerja. Apa nggak lelah Pak Tjan? ”Ah nggak, kan sudah biasa,” jawab warga Tambak Mas Timur No 20-21 Tanah Mas Semarang ini, sambil menggelengkan kepala.

Ya, bersikutat dengan teks, kamus, dan komputer, sudah menjadi rutinitas harian Tjan. Aktivitas itu dia lakukan selepas bangun tidur, sekitar pukul 03.00 hingga larut malam.

Tjan beristirahat hanya untuk mandi, makan, dan membantu usaha katering istrinya. Kondisi ini belum seberapa dibanding ritme kerjanya di masa muda. Saat itu, Tjan biasa bekerja nonstop selama 19 jam.

Apa yang membuat dia bekerja sedemikian keras? Jawaban dari pertanyaan ini berkelindan dalam kisah hidup Tjan. Tjan lahir dari keluarga berkecukupan. Ayahnya, Tjan Han Siong seorang pengusaha rotan, sedangkan ibunya Lie Lie Sian, berprofesi sebagai guru. Tjan kecil beroleh pendidikan dasar di sekolah berbahasa China, yakni SD Chung Hoa Kung Sie dan SD Yu Te. Selepas itu dia melanjutkan ke sekolah berpengantar Bahasa Indonesia: SMP dan SMA Theresiana. Penguasaan terhadap dua bahasa inilah yang melempangkan jalan Tjan ke dunia penerjemahan.

Suatu ketika, saat kuliah di Jurusan Publisistik Undip, dia mendapat tugas membuat karangan. Karena tidak terlampau cakap menulis, Tjan memilih membuat karya terjemahan. Kebetulan ia sejak kecil gemar membaca cerita silat Tiongkok. Maka ia pun menyadur bagian awal karya Bai Hong Tujuh Pusaka Rimba Persilatan. Hasil ketikan asli karya itu diserahkan kepada dosen, sedangkan kopian karbonnya— tanpa sepengetahuan Tjan— diserahkan oleh sang ayah kepada pemilik toko buku Sutawijaya di Jalan Mataram, Semarang.

”Oleh The Tjie To, sang pemilik toko, karya terjemahan saya ditawarkan kepada sebuah penerbit di Jakarta. Entah kenapa, penerbit itu tertarik dengan karya yang masih bersifat coba-coba itu. Jadilah pada 1969, jilid perdana Tujuh Pusaka Rimba Persilatan diterbitkan.”

Tak Asal-asalan

Setelah karya pertama, penerbit meminta Tjan meneruskan kelanjutannya hingga jilid 28 tamat. Tiap jilid Tjan dibayar Rp 1.750. Pada saat hampir bersamaan, bisnis rotan Tjan Han Siong gulung tikar dan terjerat utang. Dalam keterpurukan, keluarga itu menggantungkan diri pada honor Tjan. Didesak kebutuhan, dia kian giat bekerja. Bahkan suami Suryani Erawati (55) itu juga menyuplai terjemahan kepada para senior, seperti Gan Kok Liang (Gan KL) dan Sie Djiak Liong (SD Liong). Tjan rela, karya sadurannya diterbitkan atas nama mereka.

”Habis bagaimana lagi, saya butuh banyak uang. Selain makan dan biaya sekolah adik-adik, honor saya juga untuk membayar bunga bank. Karena bekerja tak kenal waktu, kuliah saya jadi berantakan.”

Meski mengejar setoran, bukan berarti Tjan bekerja asal-asalan. Karya ayah dari Elwin A Setiawan (34) dan Stevanus Kundarto (30) itu bahkan diminati banyak pembaca, utamanya dari kalangan muda. Konon, itu karena gaya bahasa Tjan yang berbeda dari penyadur cerita silat generasi sebelumnya. Jika penyadur dan penulis senior, seperti OKT, SD Liong, Gan KL, dan Gan KH cenderung memakai Bahasa Melayu Pasar, ia menggunakan Bahasa Indonesia baku.

Dari sekian banyak hasil saduran Tjan, beberapa meledak di pasaran, yakni Pendekar Patung Emas karya Qin Hong (1970), Rahasia Kunci Wasiat karya Wolong Shen (1971), serta Serial Bara Maharani (1975) dan Pendekar Riang (1979), keduanya karya Khu Lung.

Tahun 1980-an, Tjan menyisihkan penghasilannya untuk bisnis peternakan ayam. Di luar dugaan, ikhtiar coba-coba itu berkembang pesat. Tjan pun mulai meninggalkan aktivitas kepenulisannya. Namun hal itu tak berlangsung selamanya. Pada 2002, bisnis Tjan bangkrut. Dia pun kembali menggeluti aktivitas penerjemahan cerita silat dari Negeri China.

Namun zaman telah berubah. Penikmat cerita silat Tiongkok tak lagi sebanyak era 1970-1980-an. Patah arangkah Tjan? Tidak. Dia tetap berkarya dengan penuh semangat. Justru dari situlah kesadaran akan pentingnya sastra peranakan tumbuh. Cerita silat, kata Tjan, perlu dilestarikan. Sebab selain menghibur, kisah-kisah yang terkandung di dalamnya memuat banyak ajaran kebajikan, seperti kepahlawanan, patriotisme, penghormatan kepada orang tua, serta kesetiakawanan.

Inilah yang membuat Tjan merasa perlu menyiapkan generasi pengganti. Sejak tahun 2000-an, ia membina 12 anak muda yang berminat menjadi penyadur cerita silat. Mereka anggota Masyarakat Tjerita Silat (M Tjersil) yang selama ini berinteraksi melalui milis di internet.
”Ikhtiar ini tidak sia-sia. Kini, tiga dari mereka telah berhasil menerbitkan buku. Semoga yang lain segera menyusul,” katanya.

Dalang Wayang Potehi

Jika Tjan Ing Djioe sukses melakukan regenerasi, tidak demikian dengan Thio Tiong Gie. Puluhan tahun melestarikan wayang potehi, ia hanya memproduksi seorang penerus. Dia tak lain Oei Tjiang Hwat, asistennya sendiri. Padahal Tiong Gie tak kurang-kurang melakukan inovasi. Dia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengganti bahasa aslinya: China. Dia juga tak menabukan masuknya anasir budaya lain. Lelaki 76 tahun yang mukim di Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan, Semarang itu kerap memunculkan tembang-tembang campursari dalam pementasan. Namun apa lacur, pertunjukan Tiong Gie tetap minim apresiasi. ”Mencari penonton saja susah, apalagi anak muda yang mau belajar ndalang,” keluh Thio Tiong Gie.

Beda dari dulu, pentas wayang potehi saat ini cenderung dilakukan untuk klangenan. Dari ruang-ruang semacam itulah Tiong Gie dapat bertahan. Lantaran dalang potehi semakin langka, dia tak punya banyak saingan. Tiong Gie pun tak sulit-sulit amat mendapat tanggapan. Selain Semarang, dia acap diundang ke luar kota, seperti Tegal, Solo, Purwokerto, Mojokerto, Surabaya, dan Jakarta.

Dirunut ke belakang, persuaan Tiong Gie dengan wayang potehi bukan ikhwal yang disengaja. Alkisah, saat berusia sembilan tahun, rumah orang tuanya di Demak dirampok. Jatuh miskin, dia sekeluarga hijrah ke Semarang. Suatu hari Tiong Gie yang telah putus sekolah tertarik buku cerita berbahasa Hokkian yang dia baca. Beberapa waktu kemudian, dia bertemu Oey Sing Tay, tukang cakap wayang potehi.

Oey Sing Tay menyarankan Tiong Gie menjadi dalang.
Pada usia 25 tahun, dia nekat manggung untuk kali pertama di Cianjur, Jawa Barat. Nekat, karena tak pernah latihan sebelumnya. Sukses manggung perdana, Tiong Gie melanjutkan ke pentas-pentas keliling di berbagai kota di Pulau Jawa.
Peristiwa 1965 membuat wayang potehi dan kesenian bernuansa Tionghoa lain tidak boleh dimainkan secara terbuka. Tiong Gie pun terpaksa menghentikan kegiatannya. Untuk hidup, suami mendiang Hoo Sian Nio itu membuka usaha bengkel las.

Perubahan politik pada 1998 membuka jalan kebebasan bagi Tiong Gie. Pada 1999, untuk kali pertama setelah tiga dasawarsa vakum, dia kembali mendalang di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Penghapusan Inpres No 14 Tahun 1967 oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000, membuat Tiong Gie makin leluasa.

Namun, zaman telah berubah. Lepas dari belenggu rezim, wayang potehi tak berdaya menghadapi gempuran ragam kesenian modern. Menyerahkah Thio Tiong Gie? Tidak. ”Sampai mati saya akan terus mendalang,” tandasnya.(Rukardi-62)

Dari : suaramerdeka.com

Lima Pendekar Penerjemah Cerita Silat


Inilah lima pendekar penerjemah cerita silat di tanah air. Dari generasi pertama yang mulai menerjemahkan pada 1920- an hingga yang tetap bertahan hingga kini. Tiga dari mereka sudah tiada, dua lainnya tak lagi muda.

Kwo Lay Yen Generasi Pertama Penerjemah Kwo Lay Yen atau Tan Tek Ho lebih dikenal memiliki beberapa nama samaran: Kwo Lay Yen (Si Mahir), Bong Kok No (Budak Tanpa Negara) dan Hoh Hoh Sianseng (Tuan Harmoni).

Ia lahir di Bandung pada 1894. Tek Ho menempuh pendidikan dasar di Bandung dan Batavia, kemudian melanjutkan ke Nanking (Nanjing). Kembali ke Indonesia ia menjadi wartawan Sin Po. Pada 1920-an menjadi Redaksi Kepala (Hoofd-redacteur) untuk Sin Po Oost-Java Editie.

Sesudah Oost-Java Editie ditutup, ia kembali ke Bandung dan sepenuhnya menjadi penerjemah cerita silat. Karya terjemahannya yang membuat dia terkenal adalah Riwajat Djago Silat karya Siang Khay Yan (Xiang Kairan) dan Tai Beng Kie Hiap karya Sie Leng Hong (Xi Lingfeng).

Ia mengepalai berkala Goedang Tjerita (Bandung, 1929) yang kemudian diambil alih sepenuhnya dan diganti namanya menjadi Tjerita Silat pada 1932. Ketika Jepang masuk, ia ditahan di Sukamiskin, kemudian di Cimahi dan baru bebas ketika Jepang jatuh.

Salah satu terjemahan Kwo Lay Yen terbaik adalah Tjoe Bo Kim So karya The Tjeng In (Zheng Zhengyin) yang dimuat di Goedang Tjerita sejak 1948. Ia meninggal di Bandung pada 1949.

Ia menguasai aktif bahasabahasa Belanda, Cina, Inggris dan Melayu. Karena pengalamannya sebagai wartawan, maka hasil terjemahannya mengalir dengan lancar dan lebih ketat mengikuti kaidah Bahasa Indonesia daripada Melayu (Rendah).

Hanya saja penguasaannya atas dialek Hokkian sangat kurang. Ini tampak dari nama samaran yang digunakannya lebih banyak menggunakan ejaan nasional daripada Hokkian.

Selama hidupnya ia telah menerjemahkan lebih dari 50 judul cerita silat dan selusin novel Eropa. Oey Kim Tiang Menerjemahkan ke Melayu Betawi Oey Kim Tiang atau lebih dikenal dengan OKT adalah penerjemah cerita silat terbesar.

Ia telah mengerjakan lebih dari 100 judul cerita silat dan cerita klasik Cina selama 1923-1990. Ia lahir di Tangerang pada Februari 1903 dan meninggal pada 1995. Orangtuanya mandor kebun kelapa yang selalu berpindah-pindah tempat.

Ia dititipkan di keluarga ibunya dan mendapatkan pendidikan dasarnya di Tangerang. Di sana ia bersahabat dengan salah satu pengajarnya, Ong Kim Tiat. Kim Tiat pula yang membawanya ke Batavia untuk bekerja di bidang jurnalistik.

Setelah beberapa bulan bekerja di koran Perniagaan, ia kemudian pindah ke koran Keng Po yang baru saja berdiri pada Juli 1923. Di koran ini, OKT melanjutkan penerjemahan cerita sejarah klasik. Sejak itu ia menjadi penerjemah penuh seumur hidupnya.

Ketika cerita silat mengalami ledakan di akhir 1920-an, nama OKT semakin berkibar. Ia menangani cerita silat bersambung di setidaknya tiga harian. Ia sangat setia pada Keng Po yang membesarkannya dan bertahan di sana sampai koran itu mati pada 1958.

Walaupun tak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, tapi OKT justru menguasai bahasa Melaju Betawi. Penguasaan ini pernah dipuji oleh para sastrawan, seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan Ajip Rosidi. Kehatihatian membuat ia sangat setia menerjemahkan cerita silat.

Bersama saudaranya, Oey An Siok, dengan nama Boe Beng Tjoe, ia meninggalkan monumen Trilogi Rajawali Kim Yong (Jin Yong) jang telah menguasai emosi jutaan orang pembaca di seluruh dunia. Gan Kok Liang Lincah dan Enak Dibaca Gan Kok Liang atau lebih dikenal dengan nama Gan KL mengikuti ayahnya datang ke pulau Jawa pada 1928 ketika berumur 10 tahun.

Jadi ia benar- benar menguasai dialek Hokkian vernacular, seperti tercermin dalam karya-karyanya. Ia tinggal di Purworejo dan menghabiskan masa remajanya di sana. Pada 1948, agresi militer Belanda telah membumi hanguskan tempat tinggalnya. Keluarga Gan KL pun pindah ke Semarang.

Di Semarang ia mencoba berbagai macam pekerjaan. Ia mendapat kedudukan baik di satu perusahaan milik orang Belanda. Hanya saja ketika terjadi nasionalisasi, ia harus mencari pegangan lain. Pekerjaan penerjemahan menjadi sandaran barunya. Terjemahannya yang lincah dan enak dibaca diterima di harian Sin Po yang sedang mencari pengisi cerita silat bersambung baru.

Ia juga mengisi untuk koran Pantjawarna. Di sinilah ia terpengaruh oleh Nio Joe Lan yang menyarankan penulisan nama-nama Cina dalam ejaan modern Bahasa Indonesia. Ini berbeda dengan kubu Keng Po yang mempertahankan penulisan berdasarkan standar van ophuijsen.

Karya penerjemah yang meninggal pada 2003 itu mencapai lebih dari 50 judul dan hampir semua ceritanya panjang. Karyanya yang akan dikenang terus antara lain adalah Tiga Dara Pendekar (Jianghu Sannuxia) karya Liang Yushen, Rahasia Putri Harum (Suqian wenshou lu) dan Hina Kelana (Xiao’ao Jianghu) karya Jin Yong, dan Pendekar Binal (Juedai shuangjiao) (1980) karya Gu Long.

Gan Kok Hwie Santai dan Berapi-api Berbeda dengan kakaknya, Gan Kok Hwie atau Gan KH lebih terlihat sebagai pribadi yang santai dan penuh canda. Memulai karier sebagai penerjemah karena menuruti jejak Gan KL, sang kakak, ia telah menerjemahkan tidak kurang dari 30 judul cerita silat sampai saat ini.

Gan KH saat ini tinggal di Semarang dan sehari harinya sangat aktif dalam kegiatan kelenteng di Tay Kak Sie Semarang. Ia masih sangat berapiapi ketika berbicara tentang zaman kejayaan cerita silat dulu. Ia masih mengingat satu per satu karya yang pernah diterjemahkannya. Para penggemar cersil akan selalu mengenang Gan KH sebagai salah satu penerjemah terbaik cerita-cerita karya Khu Lung atau Gu Long.

Di antaranya adalah serial Pendekar Harum dan saga Salju Merah. Pada 2005 ini Gan KH kembali menerjemahkan dan buku yang paling akhir terbit adalah masih dari salah satu karya Khu Lung yang diberi judul Pukulan si Kuda Binal. Gan KH berjanji akan terus menerjemahkan demi untuk mempopulerkan kembali cerita silat seperti di zaman jayanya dulu.

Tjan Ing Djoe Spesial Karya Khu Lung Tjan Ing Djoe atau lebih dikenal dengan Tjan ID adalah OKT. Dari jumlah buku yang pernah disadur atau diterjemahkan dari bahasa aslinya, Tjan ID menerjemahkan tidak kurang dari 93 judul yang setara dengan hampir 2.188 jilid cerita silat. Lahir pada 1949, Tjan mulai menerjemahkan cerita silat di usia 19 saat kuliah di Universitas Diponegoro Semarang.

Pada awal karier penulisannya Tjan banyak dibantu oleh OKT yang juga mengajarinya teknik menerjemahkan dari bahasa Cina. Tjan ID juga seorang yang unik. Tak seperti para penerjemah lainnya, walau produktif, Tjan tidak pernah memakai kertas karbon ketika mengetik untuk naskah terjemahannya. Akibatnya ketika gelora penerjemahan cerita silat kembali muncul, Tjan ID harus kehilangan sebagian besar naskah karyanya yang hilang atau habis dimakan rayap.

Sekitar 20 karya Khu Lung telah diterjemahkannya sekaligus membawanya sebagai penerjemah spesialis karya Khu Lung. Ia terkenal sebagai penerjemah yang sangat setia pada naskah aslinya. Golok Kemala Hijau pada 1974 diakui sebagai karya terjemahannya yang pertama. Karya terjemahan cerita silat terakhirnya baru saja diluncurkan Oktober ini atas kerja sama dengan Masyarakat Tjersil, berjudul Bunga Pedang, Embun Hujan, Kanglam, masih terjemahan dari karya Khu Lung.

Saat ini Tjan ID tinggal di Semarang. Sembari menerjemahkan, ia sibuk beternak ayam.

HIANG PHEK TAUWTOO |RIEZ SIAUW BIN YOE HOEN DOKUMEN PRIBADI

Dari : ruangbaca.com

Kamis, 04 Februari 2010

O.K.T atau Oey Kim Tiang


O.K.T. (Oey Kim Tiang) adalah penterjemah cerita silat yang paling produktif di Indonesia sampai sekarang. Ia lahir dalam keluarga peranakan Cina yang telah enam generasi tinggal dikota Tangerang. Lahir tahun 1903, di kota ini pula ia meninggal tahun 1995. Mewariskan lebih dari seratus karya terjemahan yang dihasilkan selama ia berkarya lebih dari 60 tahun.
Ajip Rosidi memuji penggunaan bahasanya yang sangat lentur dan hidup dalam menceritakan (menuturkan) kembali kisah-kisah penuh aksi ini, meskipun kadang tidak menganut kaidah baku bahasa Indonesia. Pengabdiannya kepada kegiatan penterjemahan adalah total, ketelitian dan kerja kerasnya menjadi jaminanbagi para penggemar cerita silat.
Hasil terjemahannya sangat setia kepada naskah aslinya, semua detail sampai sajak-sajak yang sulit diterjemahkan pun tidak ada yang dilewati. Namun gayanya pribadi tetap mencuat melalui penguasaannya atas bahasa Melayoe Rendah atau Melayoe Pasar dengan pengkayaan kosakata dialek Hokkioan dalam istilah-istilah tertentu sangat kuat. Semua ini menggumpal dalam gaya bahasa yang amat khas, sekaligus sangat hidup dalam benak para pembacanya.

Oey Kim Tiang atau O.K.T adalah penterjemah cerita silat yang sangat produktif, beliau lahir dalam keluarga peranakan Cina generasi ke enam di Tangerang. Tahun kelahirannya 1903, dan di kota Tangerang pula beliau wafat dalam usia 92 tahun. Karena lanjut usia dan sering sakit, pada 1980-an, Oey sudah jarang menulis. la meninggal 8 Maret 1995. la pernah bersekolah Tiong Hoa Hwee Koan setempat sampai tingkat SLTP.

Penerjemah terkenal sebelum perang, Ong KimTiat, adalah gurunya. Sebenarnya sejak sebelum Perang, Oey Kim Tiang sudah mulai menerjemahkan cersil dan novel-novel detektif. Selama hidupnya, almarhum telah menterjemahkan lebih dari 100 karya terjemahan dari dialek Hokkian ke dalam bahasa Melayoe Pasar atau Melayoe Rendah.

Dalam menterjemahkan, O.K.T menjaga konsistensinya dalam mempertahankan kosa kata Hokkian dalam istilah-istilah tertentu sangat kuat.

Penggunaan bahasa dalam cerita silat terjemahan tersebut bahasanya sangat lentur dan hidup dalam menuturkan (menceritakan) kisah-kisah yang penuh aksi, dan pembaca dibawa dalam imajinasinya, sehingga seolah-olah pembacanya mengalami sendiri kejadian lepas kejadian dalam kisah silat tersebut. Meskipun Oey cuma berpendidikan setingkat SLTP di Tiong Hoa Hwee Koan dan tidak melanjutkan lagi, tetapi dasar bahasa Tionghoanya tidak lemah. Di antara penerjemah cersil Tionghoa peranakan, Oey satu-satunya penerjemah syair dalam cersil ke dalam bahasa Indonesia.

Kalau diperhatikan, O.K.T seringkali tidak menganut kaidah bahasa Indonesia, tetapi justru hal tersebutlah yang membuat pembaca mengalami pengayaan dan menambah wawasan dalam pengenalan kosakata dari bahasa Sunda dan Jawa. Terjemahannya berusaha mempertahankan makna syair aslinya. Akan tetapi, demi irama sajaknya, ia kadang-kadang memakai cara terjemahan tidak lazim. Misalnya ia mener-jemahkan “San Qiu” menjadi “di musim TJioe”, yang sebenarnya, “di musim gugur” atau “di musim rontok”. Demi mempertahankan irama sajaknya, ia menerjemahkan “Changjiang” menjadi “sungai Tiang Kang”, yang sesungguhnya, “sungai Yang Tse” yang lebih dikenal orang. Meskipun demikian, Oey telah membuang banyak waktu untuk mengerjakan terjemahan syair-syair dalam karyanya.

Di samping menerjemahkan karya-karya Liang Yusheng dan Jin Yong, Oey juga menerjemahkan cersil Ti Feng dan Wang Du Lu. la berpendapat, karya-karya Wang Du Lu sebaik karya Jin Yong. Ketika bekerja di Keng Po, Oey meneijemahkan lima buah karya Wang Du Lu (yaitu Po Kiam Kim Tje, Kiam Kie Tjoe Kong, Go Houw Tjhong Liong, Tiat Kie Gin Pan dan Ho HengKoen Loen) dan dimuat secara bersambung di suratkabar tersebut , Setelah tamat cersil-cersil itu segera diterbitkan dalam bentuk buku saku.

Bersama saudaranya, Oey An Siok, dengan nama Boe Beng Tjoe, ia meninggalkan monumen Trilogi Rajawali Kim Yong (Jin Yong) jang telah menguasai emosi jutaan orang pembaca di seluruh dunia.

kangzusi.com

Dari : http://thiansan.wordpress.com/okt/